Artikel

DERMATITIS KONTAK

15 Maret 2019
DERMATITIS KONTAK

DERMATITIS KONTAK
Kolonel Kes dr. Iwan Trihapsoro, Sp.KK., Sp.KP., FINSDV., FAADV

1. PENDAHULUAN
                    Dermatitis kontak (DK) merupakan respon peradangan terhadap bahan eksternal yang kontak pada kulit. Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan yang merupakan respon non imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan oleh mekanisme imunologik spesifik, keduanya dapat bersifat akut maupun kronis.
Lingkungan militer juga dipenuhi dengan bahan-bahan kontak yang berpotensi menimbulkan DK bagi personelnya. Bila kondisinya berulang atau parah, tentunya akan mengganggu keberhasilan tugas.
Diagnosis yang tepat dan terapi yang cepat akan menurunkan insiden DK dan membuat personel segera bertugas tanpa gangguan.

2. EPIDEMIOLOGI
                    Salah satu penyakit kulit yang paling sering dijumpai pada pasien rawat jalan maupun rawat inap selama konflik militer adalah dermatitis yang disebabkan oleh kontak dengan benda eksogen. Pada bagian dunia tertentu DK menempati proporsi utama penyakit kulit pada korban perang.
Pada saat perang maka fasilitas yang tersedia kurang memadai, akibatnya kebersihan personel berkurang dan paparan terhadap bahan kimia baik iritan maupun alergen akan meningkat. Prevalensi selama Perang Dunia I adalah 5,1 % pasien yang dirawat di RS akibat penyakit kulit. Selama Perang Dunia II, Pusat Kesehatan AS melaporkan 75.371 pasien rawat akibat DK, namun 99% prajurit tersebut dapat kembali bertugas1 Israel melaporkan Insiden DK dilingkungan militer diperkirakan sebesar 9,6- 32 %.2 Pada Perang Dunia II di Pasifik Selatan, 20 % tentara yang berobat akibat masalah di bidang kulit. Perang Vietnam, 12,2 % pasien rawat jalan adalah pasien penyakit kulit. Penelitian di Amerika, selama Operation Desert Storm di Teluk Persia menunjukkan insidensi penyakit kulit sebesar 13,9 %. Data Angkatan Bersenjata di Timor Timur, 25 % dari konsultasi medis adalah kasus dermatologi. Kelainan dermatologi yang paling banyak membutuhkan pengobatan rawat jalan dan inap di masa konflik militer adalah dermatitis. Salah satu dermatitis yang banyak dijumpai yaitu dermatitis kontak (DK).
3. ETIOLOGI
                    Penyebab dari DK di lingkungan kerja militer umumnya berasal dari oli, bahan bakar, pelarut, bahan peledak, munisi, sumbu bakar, gas tempur, senjata, cat dan deterjen.
Sedangkan yang berasal dari lingkungan alam diantaranya dari tanaman atau gigitan serangga.
Penyebab lainnya adalah pakaian/seragam dan perlengkapannya, obat-obatan, pengusir serangga dan anti perspiran.2
4. PATOGENESIS.

                    a.      Dermatitis Kontak Alergik.
                    Merupakan reaksi hipersensitifitas tipe lambat ( tipe IV) yang diperantarai sel T. Terjadinya dermatitis kontak alergik memerlukan sensitisasi terhadap suatu antigen. Pemaparan awal bisa tidak menyebabkan reaksi                          kulit. Seorang pasien yang rentan (susceptible) akan mendapat kepekaan (hypersensitivity) terhadap suatu bahan dalam waktu 10-14 hari. Pamaparan berikut dalam menyebabkan dermatitis eksematous dalam                          waktu 12-48 jam.
                    Proses immunologik dalam dermatitis kontak alergik memerlukan interaksi antara antigen, sel Langerhans dan sel limfosit T. Selama proses sensitisasi sel-sel Langerhans akan mengikat antigen dan                                                        memprosesnya melalui interaksi dengan membran sel protein dan membuatnya menjadi alergenik. Sel Langerhans kemudian meninggalkan epidermis melalui saluran pembuluh limfa ke limfonodi regional dan                            mempersembahkan antigen kepada sel T menjadi sel-sel memori atau primed memory cells atau primed T cells. Primed memory cells akan bersirkulasi di dalam tubuh dan siap untuk pertemuan berikutnya                                      dengan antigen.
                    b. Dermatitis Kontak Iritan
                    Dermatitis kontak iritan adalah efek sitotosik lokal langsung dari bahan iritan pada sel-sel epidermis, dengan respo n peradangan pada dermis. Daerah yang paling sering terkena adalah tangan dan pada individu                            atopi menderita lebih berat. Secara definisi bahan iritan kulit adalah bahan yang menyebabkan kerusakan secara langsung pada kulit tanpa diketahui oleh sensitisasi.
                    Mekanisme dari dermatis kontak iritan hanya sedikit diketahui, tapi sudah jelas terjadi kerusakan pada membran lipid keratisonit. Dalam beberapa menit atau beberapa jam bahanbahan iritan tersebut akan berdifusi                        melalui membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan komponen-komponen inti sel. Dengan rusaknya membran lipid keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan asam arakidonik akan                            membebaskan prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan sistem kinin. Juga akan menarik neutrofil dan limfosit serta                                mengaktifkan sel mast yang akan membebaskan histamin, prostaglandin dan leukotrin. Pletelet activating factors akan mengaktivasi platelets yang akan menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil gliserida akan                              merangsang ekspresi gen dan sintesis protein.
                    Pada dermatitis kontak iritan terjadi kerusakan keratinosit dan keluarnya mediator-mediator. Sehingga perbedaan mekanismenya dengan dermatis kontak alergik sangat tipis yaitu dermatitis kontak iritan tidak                                      melalui fase sensitisasi. Umumnya disebabkan oleh bahan kimia (asam, basa, pelarut dan oksidan), juga oleh tergantung dari jumlah dan lama paparan dari bahan iritan.

5. GEJALA KLINIS

                     Dermatitis kontak dapat disebabkan oleh paparan bahan iritan atau alergen. DK iritan umumnya mengenai tangan dan timbul sebagai masalah yang subakut atau kronik. Penyebab utamnya adalah sabun, pelarut dan deterjen. Bila diakibatkan oleh penyebab asam atau basa kuat dapat bersifat akut misalnya oleh bahan hidrazin dari pesawat F-16.
DK alergik dapat bersifat akut dengan gejala eritema yang jelas, vesikula dan gatal. Penyebab bahan kontak alergen kadang sulit ditentukan. Masker wajah yang terbuat dari karet hitam pada Perang Teluk yang digunakan untuk melindungi serangan gas telah menyebabkan urtikaria akut pada beberapa prajurit. DKA juga dapat menjadi kronik dengan likenifikasi dan skuama.5
DK iritan pada mulanya dapat mengaikbatkan sensasi rasa sakit seperti tersengat atau terbakar kemudian diikuti oleh indurasi, vesikel dan kemerahan pada fase akut, dan dapat berkembang menjadi kronik.6

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
                   Diagnosis DKA dapat dikonfirmasi dengan uji tempel (Patch Testing) . Tes konfirmasi untuk DKI belum tersedia, namun dapat untuk menyingkirkan dugaan DKA. Uji tempel dapat menentukan bahan penyebab atau setidaknya menyingkirkan alergen tersangka lainnya, sehingga pasien dapat terus menggunakan bahan tersebut.5.6
7. DIAGNOSIS
                   Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan klinis dan penunjang. Di satuan militer umumnya tidak memiliki sarana uji tempel, dengan demikian anamnesis bahan penyebab dan keluhan yang dirasakan pasien sangat penting, disamping pemeriksaan klinis terhadap ruam kulitnya.
8. DIAGNOSIS BANDING
Berbagai jenis kelainan kulit yang harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding adalah :
                    a.      Dermatitis atopik : erupsi kulit yang bersifat kronik residif, pada tempat -tempat tertentu seperti lipat siku, lipat lutut disertai riwayat atopi pada penderita atau keluarganya.
                    b.      Dermatitis numularis : merupakan dermatitis yang bersifat kronik residif dengan lesi berukuran sebesar uang logam dan umumnya berlokasi pada sisi ekstensor ekstremitas.
                    c.      Dermatitis dishidrotik : erupsi bersifat kronik residif, sering dijumpai pada telapak tangan dan telapak kaki, dengan efloresensi berupa vesikel yang terletak di dalam.
                    d.      Dermatomikosis : infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur dengan efloresensi kulit bersifat polimorf, berbatas tegas dengan tepi yang lebih aktif.
                    e.      Dermatitis seboroik : bila dijumpai pada muka dan aksila akan sulit dibedakan. Pada muka terdapat di sekitar alae nasi, alis mata dan di belakang telinga.
                    f.       Liken simplek kronikus : bersifat kronis dan redisif, sering mengalami iritasi atau sensitisasi. Harus dibedakan dengan dermatitis kontak alergik bentuk kronik.7
9. PENATALAKSANAAN

                    Penatalaksanaan dari DK yang utama adalah tindakan pencegahan berupa menghilangkan bahan iritan atau alergik yang menimbulkan reaksi DK. Terapi berupa pengobatan terhadap ruam kulit dengan steroid topikal poten atau steroid sistemik untuk erupsi DKA berat. Infeksi sekunder biasa terjadi dan harus segera ditangani dengan kompres basah bila diperlukan dan pemberian antibiotik oral.5
Bila kasus ini sering terjadi di satuan maka perlu penyelidikan yang cermat dari petugas medis di satuan untuk mengetahui bahan-bahan yang diduga sebagai penyebab DK dan memberikan saran kepada pimpinannya untuk dilakukan tindakan pencegahan, misalnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan penugasan atau jenis bahan penyebabnya.
10. PERTIMBANGAN MILITER
                    Karena sifatnya kronik dan sering kambuh , dibeberapa negara tidak menerima calon prajurit dengan DK.3 Adanya riwayat atau adanya DK saat mendaftar , khususnya bila melibatkan material yang digunakan untuk alat perlindungan diri, maka calon prajurit tersebut akan didiskualifikasi.4
Sedangkan bagi personel aktif yang menderita DK kronik dan berat maka personel tersebut tidak memenuhi syarat untuk pekerjaan atau tugas tertentu misalnya dibidang penerbangan, penyelaman, reaktor nuklir atau pasukan khusus.4
                    Jika kondisinya tidak terkontrol dan membatasi tugas personel secara penuh maka dapat dibentuk dewan pertimbangan medis untuk memutuskan kedinasan prajurit yang bersangkutan.3
Penggunaan steroid sistemik, steroid topikal potensi tinggi dan antihistamin dapat mengakibatkan efek samping yang dapat mengganggu keselamatan terbang dan kerja. Terapi yang membutuhkan waktu lama juga akan mengganggu penempatan penugasan.6
11. PROGNOSIS
                    Pertimbangann aeromedis meliputi gangguan penerbangan dan turunnya performa ketika penyakit menjadi progresif dan terapi yang diberikan tidak sesuai dengan lingkungan penerbangan militer. Ketidaknyamanan dari rasa gatal atau rasa sakit dapat bersifat signifikan dan berakibat timbulnya distraksi/pengalihan perhatian yang membahayakan penerbangan atau mengurangi unjuk kerja yang optimal. Kulit yang terkena DK bila terkena tekanan atau gesekan terus menerus dari alat-alat penerbangan atau penyelaman (helm, sarung tangan, masker, kacamata, sabuk pengaman, kursi, fin, aqualung dll) dapat mengakibatkan memburuknya DK.6 Bagi prajurit yang alergi terhadap masker penyamaran tentu akan sulit untuk mencari penggantinya.

12. KESIMPULAN

                    DK merupakan salah satu penyakit kulit yang menimbulkan angka kesakitan cukup tinggi bagi anggota militer. Pengenalan bahan penyebab akan dapat mencegah berulangnya insiden DK di satuan militer. Perlu dipertimbangkan bahwa pengobatan DK dapat juga mempengaruhi unjuk kerja prajurit di lapangan.
KEPUSTAKAAN
1. Crowe, Mark A., William D. James, Allergic And Irritant Contact Dermatitis in Textbook Of Military Medicine, Office Of The Surgeon General Department Of The Army, United States Of America, 1994
2. Trattner, Akiva., Aneta Lazarov, Arieh Ingber, Kanerva’s Occupational Dermatology, 2nd ed. Springer Berlin Heidelberg, 2012
3. Tara T, Dever, Michelle Walters, Sharon Jacob, Contact Dermatitis in Military Personnel, Dermatitis. 2011;22(06):313-319.
4. Rod Powers, Skin and cellular tissues in Military Medical Standards for Enlistment & Appointment, Department of Defense (DOD) Directive 6130.3, United States Of America , 2009
5. Upjohn, Edward. John Kelly, Skin diseases in war and peacekeeping, Dermatology, ADF Health September 2004 - Volume 5 Number 2.
6. Tingey, Justin. Dan Van Syoc, Eczematous Dermatitis (Eczema) Including Atopic, Contact, Nummular, Dyshidrotic, and Seborrheic Dermatitis, Air Force Waiver Guide, Updated: 2012
7. Trihapsoro, Iwan . Thesis Dermatitis Kontak Alergik Pada Pasien Rawat Jalan Di RSUP Haji Adam Malik Medan, Bagian Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, 2002
 

PEJABAT

KAPUSKES TNI
MAYOR JENDERAL TNI Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.S., M.A.R.S., M.H.

Link Web

Visitor

Hari Ini 10
Kemarin 25
Minggu Ini 119
Bulan Ini 229

Login Website Puskes TNI

Forgot Password