Berita

MILITARY HEALTH SECURITY SUMMIT AND GLOBAL HEALTH SECURITY 2019 CONFERENCE

24 Juni 2019
MILITARY HEALTH SECURITY SUMMIT AND GLOBAL HEALTH SECURITY 2019 CONFERENCE

MILITARY HEALTH SECURITY SUMMIT, 16-17 JUNE 2019 UNIVERSITY OF SYDNEY GLOBAL HEALTH SECURITY 2019 CONFERENCE, 18-20 JUNE 2019  THE INTERNATIONAL CONVENTION CENTRE, DARLING HARBOUR, SYDNEY AUSTRALIA

 

Jakarta, puskes-tni.mil.id(24/6/2019). Kepala Pusat Kesehatan TNI dr. Ben Yura Rimba, M.A.R.S. dengan didampingi Kolonel Kes dr. Iwan Trihapsoro, Sp.KK,. Sp.KP,. FINSDV,. FAADV, Kabidum Puskes TNI menghadiri kegiatan MILITARY HEALTH SECURITY SUMMIT, 16-17 JUNE 2019 UNIVERSITY OF SYDNEY GLOBAL HEALTH SECURITY 2019 CONFERENCE, 18-20 JUNE 2019  THE INTERNATIONAL CONVENTION CENTRE, DARLING HARBOUR, SYDNEY AUSTRALIA.

Selain kegiatan Global Health Security (GHS) 2019 Conference, Kapuskes TNI juga menjadi pembicara pada side event meeting berupa Military Health Security Summit, 16-17 June 2019 di University of Sydney. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama US INDOPACOM dan Australian Defence Force. 

Global Health Security atau Ketahanan Kesehatan Global adalah suatu keadaan yang terbebas dari ancaman penyakit menular, dari manapun asal atau sumbernya. Keadaan ini dapat dicapai melalui kebijakan, program, dan kegiatan untuk mencegah, mendeteksi, merespons, dan memulihkan keadaan dari ancaman biologis. Ada banyak tantangan nyata yang merupakan risiko terhadap ketahanan kesehatan global, termasuk beragam patogen yang  dapat menimbulkan ancaman bagi kesehatan individu atau kolektif, resistensi antimikroba dan munculnya infeksi yang saat ini belum dapat diobati, potensi penyalahgunaan senjata biologis, dan sintesis patogen eradikasi atau patogen baru. Kompleksitas untuk mengatasi tantangan-tantangan ini diperberat oleh banyak faktor penentu. Ancaman-ancaman ini tidak mengenal batas dan memiliki konsekuensi global yang membutuhkan tindakan kolektif yang lebih efektif. 

Setelah wabah Ebola Afrika Barat 2014, penyebaran penyakit Zika secara internasional, transmisi resistensi antimikroba yang terus berlangsung, dan ancaman terhadap adanya potensi pandemi influenza, ketahanan kesehatan global telah mengambil langkah-langkah pada tingkat kepentingan yang baru. Mengatasi berbagai tantangan tersebut beberapa komisi dan panel tingkat tinggi telah dibentuk, rekomendasi telah dikeluarkan, dan pemerintah, organisasi internasional, masyarakat sipil dan industri swasta semuanya berkomitmen untuk berbagai  inisiatif  yang  bertujuan  untuk  menciptakan  kondisi  kesehatan  yang terbebas dari ancaman penyakit global. 

Konferensi ini mempertemukan para praktisi, peneliti, pendidik, para pembuat keputusan dari berbagai bidang kesehatan masyarakat, kedokteran, ilmu kedokteran hewan, pertanian, pemerintah, pertahanan, hubungan internasional, sosiologi dan antropologi untuk memperkuat sistem kesehatan yang telah ada dan mengidentifikasi kesenjangan dan peluang dalam rangka meningkatkan kemampuan komunitas internasional untuk merespons secara lebih efisien dan efektif terhadap ancaman krisis kesehatan yang merugikan di masa depan. Pada konferensi ini, lebih dari 800 anggota komunitas ketahanan kesehatan global berkumpul di Sydney, Australia, untuk berpartisipasi dalam Konferensi Ilmiah Internasional tentang Global Health Security yang pertama. Peserta berasal dari lebih dari 65 negara, mewakili akademisi, organisasi pemerintah dan non- pemerintah lokal, nasional dan internasional, profesional kesehatan dan keamanan hewan dan publik, serta sektor swasta, yang semuanya berkomitmen untuk memajukan ketahanan kesehatan global. Sebagai produk konferensi ini, konferensi menghasilkan " Pernyataan Sydney tentang Ketahanan Kesehatan Global." 

Tujuan acara. Konferensi ini bertujuan untuk memperkuat sistem kesehatan dan mengidentifikasi kesenjangan dan peluang yang ada dalam rangka meningkatkan kemampuan komunitas internasional untuk merespons secara lebih efisien dan efektif terhadap potensi krisis kesehatan yang merugikan di masa depan. 

Peserta acara. Sidang dihadiri oleh 800 peserta yang berasal dari perwakilan 65 negara dan lembaga internasional. Dari Indonesia delegasi berasal dari ; Mabes TNI, Kementerian Pertahanan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Indohun, Universitas Indonesia, Universitas Hasanudin, Universitas Diponegoro, Universitas Sriwijaya. 

Pertemuan Military Health Security Summit dan Global Health Security 2019 Conference memberikan fasilitas bagi para perwakilan negara baik dari lingkungan militer maupun sipil untuk mendiskusikan dan melaporkan topik-topik ketahanan kesehatan global dalam perspektif strategis, operasional dan taktis untuk meningkatkan pengetahuan, kapabilitas, kerjasama dalam rangka mencegah, mendeteksi dan merespon potensi ancaman penyakit epidemi dan pandemi global. 

Dalam paparan Kapuskes TNI tentang Global Health Security in Indonesia Perspective pada Military Health Security Summit dijelaskan tentang posisi strategis Indonesia yang rawan terhadap bahaya penyebaran penyakit yang bersifat epidemis maupun pandemi. Disampaikan juga tentang jenis-jenis ancaman biologis yang dapat terjadi baik secara naturally outbreak maupun man made outbreak. Sistem kesehatan militer memiliki tanggung jawab baru disamping tugas tradisional sebelumnya berupa dukungan kesehatan untuk operasi stabilitas, bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, intelijen medis dan ketahanan kesehatan global. TNI memiliki kemampuan dan kapasitas untuk melaksanakan 11 Action Packages dari GHSA (Global Health Security Agenda) dengan memanfaatkan rumah sakit, kapal rumah sakit, dan batalion kesehatan yang diawaki oleh tenaga medis di tiga angkatan. Indonesia, khususnya TNI, telah memiliki langkah-langkah strategis dalam melaksanakan GHSA pada tingkat taktis, operasional maupun strategis dengan bekerjasama dengan seluruh stake holder di dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu hasil nyata yang merupakan sumbangan TNI untuk dunia adalah dihasilkannya Jakarta Call for Action pada saat Table Top Exercise pada tanggal 24-26 Oktober 2017 yang merupakan kolaborasi dari TNI, Kemkes RI, WHO (World Health Organization) dan US DTRA (United States Defense Threat Reduction Agency) yang diikuti oleh 160 peserta dari 44 negara yang dibuka di istana negara oleh Presiden Joko Widodo. Jakarta Call for Action selanjutnya menjadi dasar pembuatan panduan dunia oleh WHO berupa Guide for Multisectoral Partnership Coordination for International Health Regulation (2005) and Health Security. Disamping itu juga digunakan sebagai dasar untuk pembuatan Pandemic Influenza Preparedness Planning dan National Cross Sectoral Collaboration Between Security and Health Sector oleh WHO bagi dunia. Hal tersebut membuktikan TNI menjadi role model oleh WHO dalam koordinasi dan kerjasama antara sipil dan militer. 

Pada GHS 2019, judul paparan Kapuskes TNI adalah Current and Future Health Security Challenges, an Indonesian Perspective dijelaskan bahwa ketahanan kesehatan adalah bagian dari keamanan nasional. Dalam Buku Putih Pertahanan Indonesia 2016 disebutkan bahwa bahwa epidemi adalah ancaman non tradisional. Berdasarkan Perintah Eksekutif Presiden RI maka dalam keterlibatan multisektor, Panglima TNI bertanggung jawab sebagai Incident Commander dalam bencana biologis yang berskala nasional. Koordinasi Militer Sipil tidak hanya sebagai respons terhadap bencan tetapi juga memerlukan tingkat kesiapasiagaan, itu berarti Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia harus ditinjau dan direvisi. Ikatan Dokter Indonesia (beranggotakan 160.000 orang dokter) menyatakan diri sebagai Agen Pertahanan di samping peran mereka sebagai agen perubahan dan agen pembangunan. Setiap wabah epidemi harus dianggap disengaja sampai terbukti alami. Agar mampu mengatsi maka kemampuan sektor kesehatan harus ditingkatkan. Kerjasama antar pemerintah dan antar militer serta keterlibatan multi sektor harus didukung, tidak hanya sebagai respons tetapi juga dalam kesiapsiagaan. Pedoman dan standar internasional (termasuk kerja sama militer sipil) diperlukan sebagai referensi untuk pedoman nasional. 

The Sydney Statement on Global Health Security. Sebagai produk dari konferensi GHS2019 maka peserta sepakat untuk mengeluarkan pernyataan Sydney pada Ketahanan Kesehatan Global untuk mengatasi ancaman ketahanan kesehatan global yang harus dipandu oleh serangkaian prinsip sebagai berikut : 

  • Intervensi ketahanan kesehatan global harus bersifat inklusif, adil, dan didasarkan atas 

  • Kemampuan minimum untuk pencegahan, deteksi, dan respons penyakit sangat penting dimiliki oleh semua negara, karena epidemi dapat terjadi di mana saja yang dapat mengancam kesehatan setiap Pencapaian ketahanan kesehatan global juga sangat terkait dengan upaya untuk mencapai cakupan kesehatan universal, upaya memperkuat aspek-aspek penting lainnya dari sistem kesehatan dan keamanan yang luas, dan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. 

  • Pemerintah harus bekerjasama secara terprogram, terorganisasi, dan dengan dukungan anggaran untuk mendorong kepatuhan terhadap Peraturan Kesehatan Internasional, perjanjian hukum dan peraturan terkait lainnya untuk terwujudnya tata kelola global bagi kedaruratan kesehatan masyarakat yang efektif, dan dengan demikian, mendorong organisasi internasional dan  LSM untuk menjaga norma integritas internasional, menghormati hak asasi manusia, dan keadilan sosial. Diskusi transparan, saling berbagi dan kapasitas ketahanan kesehatan global sangat penting untuk mencapai tujuan ini. 

  • Mencapai ketahanan kesehatan global membutuhkan pengambilan keputusan dan kegiatan individu, kelompok dan sistem yang saling memperkuat kapasitas disemua tingkat interaksi dan disiplin Membuat dunia menjadi tempat yang lebih sehat, lebih adil dan lebih aman memerlukan tindakan dan keterlibatan dari semua pihak, termasuk sektor filantropi, publik dan swasta. 

  • Ketahanan kesehatan global harus merangkul pendekatan One Health, tidak hanya untuk mencegah dan merespons penyakit, tetapi juga untuk melindungi ekosistem yang menopang kesehatan manusia, hewan dan Semua sektor terkait harus terlibat dan dilibatkan secara bermakna, termasuk kesehatan, pertanian, lingkungan, keamanan, dan komponen vital lainnya. 

  • Negara dengan kemampuan dan kapasitas yang lebih tinggi untuk merespons peristiwa kesehatan masyarakat yang merugikan memiliki kewajiban moral dan etika untuk bekerja dalam kemitraan dengan mereka yang memiliki kemampuan dan kapasitas yang lebih rendah agar dapat memperkuat kemampuan mereka secara berkelanjutan.

  • Mitra internasional dan pemerintah nasional harus berkomitmen untuk membuat mekanisme pendanaan yang berkelanjutan dan komprehensif untuk mendukung ketahanan kesehatan Pemikiran strategis jangka panjang untuk ketahanan kesehatan global harus didukung oleh komunitas praktis yang beragam dan inklusif, berkomitmen untuk memberikan bukti terbaik untuk menginformasikan para pengambilan keputusan secara transparan. Untuk mencapai suatu tingkat ketahanan kesehatan global diperlukan komitmen terhadap prinsip-prinsip diatas dan pengaturan kelembagaan global untuk mengurangi ancaman penyakit menular termasuk pemberdayaan lokal, peningkatan kapasitas, pembagian data dan manfaat, transparansi, dan akuntabilitas. Sistem kesehatan yang lebih baik, cakupan kesehatan universal, dan kebijakan kesehatan dari tingkat lokal hingga dunia semuanya tergantung dan mendukung ketahanan kesehatan global. 

Bilateral meeting. Pada tanggal 17 Juni 2019, pukul 15.15 waktu setempat, bertempat di University of Sydney dilangsungkan pertemuan bilateral antara Kapuskes TNI dengan Kapuskes Indopacom RADM Louis Tripoli (Command Surgeon of the United States Indo-Pacific Command). Dalam pembicaraan tersebut RADM Tripoli memuji tindakan dan aktivitas Puskes TNI dan peran Kapuskes TNI dalam kerangka GHSA dan menyebutnya sebagai champion of the Global Health Security engagement. Beliau mengaku banyak belajar atas pengalaman dan kerja nyata dari Puskes TNI. Dibicarakan juga untuk rencana pendirian asosiasi Global Health Security yang independen untuk menampung para pemerhati gerakan global health security termasuk para purnawirawan. Asosiasi ini akan merupakan think tank yang dapat memberi saran bagi pemerintah. Hal sama yang telah dibicarakan antara Kapuskes TNI dan RADM Chinn di New Zealand seminggu yang lalu. Indopacom akan selalu mendukung kegiatan Puskes TNI untuk meningkatkan kapasitas dalam hal GHSA. 

Sekian.

 

PEJABAT

KAPUSKES TNI
MAYOR JENDERAL TNI Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.S., M.A.R.S., M.H.

Link Web

Visitor

Hari Ini 9
Kemarin 25
Minggu Ini 118
Bulan Ini 228

Login Website Puskes TNI

Forgot Password